Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik!

Bahwasanya untuk selama-lamanya 

kasih setia-Nya

Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. (Yohanes 10:11)

GEREJA MASEHI INTERNASIONAL MINAHASA

8316 Sierra Ave., Fontana, CA 92335

Suatu Refleksi Tentang Memberi Persembahan

Tuhan Allah adalah pencipta, pemilik dan pemberi segala sesuatu. Ia juga yang menyediakan segala sesuatu untuk kepentingan kita; tanah yang subur, pekerjaan, keahlian, dan bumi yang indah nan kaya. Dialah sumber berkat dalam kehidupan kita. Lebih dari pada itu Dialah yang telah datang ke dalam dunia untuk menebus segala dosa kita.


Ketika menghayati dan menyadari akan perbuatan Allah ini, maka umat Tuhan terdorong untuk mempersembahkan sesuatu kepada-Nya. Namun persembahan ini bukan berarti bisa membalas kasih Allah kepada kita. Sekaya apapun kita, tetap tidak bisa membalas berkat dan kasih Allah dalam kehidupan kita. Lagipula Allah tidak membutuhkan apa-apa dari kita.


Dalam pemahaman spiritual orang Israel, karena Allah sudah melakukan kebaikan, maka umat mengungkapkan kesaksian mereka tentang apa yang sudah Allah lakukan itu dalam bentuk korban dan persembahan.


Persembahan Persepuluhan dalam Alkitab

Dalam Alkitab Perjanjian Lama kita membaca bagaimana persembahan diterima berdasarkan kwalitasnya. Artinya melalui kwalitas persembahan kita bisa melihat sikap hati orang yang memberikan persembahan itu. Orang yang tulus memberikan yang terbaik untuk dipersembahkan. ‘Menyisihkannya’ sejak awal untuk dipersembahkan. Orang yang tidak tulus, menjadikan persembahan sebagai basa-basi, dan karena itu memberikan apa yang ‘disisakan’ di akhir semuanya sebagai persembahan.

Karena Allah memperhatikan sikap hati inilah, maka persembahan Kain ditolak, sementara persembahan Habel diterima.(Kejadian 4:3-10). Terlepas dari apa yang terjadi kemudian, kita belajar satu hal, bahwa, Tuhan Allah melihat sikap hati. Dan karena itu sikap kita ketika memberikan persembahan harus cocok dengan apa yang Tuhan Allah inginkan.


Praktek Persepuluhan

Praktek Persepuluhan kita baca dalam berbagai bagian Alkitab, terutama Kitab Perjanjian Lama. Kenyataan ini bisa kita fahami karena Umat Israel sangat menekankan hal-hal ritual yang dalamnya ada korban dan persembahan. Dalam iman Kristen semuanya itu menuju kepada Yesus Kristus. Namun itu tidak berarti bahwa masyarakat Perjanjian Baru tidak melaksanakan persembahan sama sekali. Bisa dikatakan bahwa orang-orang Kristen generasi pertama pasti masih mengikuti tradisi Yahudi, kecuali dalam satu hal yakni korban yang berdarah. Tradisi perjanjian Baru itu yang kemudian sampai kepada kita, termasuk persembahan persepuluhan.


Pemberian persepuluhan sebagai persembahan kita baca pertama sekali dalam Kejadian 14:20. Dikatakan di sana, bahwa seorang raja bernama Melkisedek, sekaligus imam Allah yang Maha tinggi, keluar menyambut Abram, setelah Abram berhasil mengalahkan banyak raja-raja lain yang menawan Lot sekeluarga. Dan Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya

Nama Melkisedek itu berarti ‘Raja Kebenaran’. Nama itu berasal dari dua patah kata: Melekh yang berarti Raja, dan Tzadik yang berarti kebenaran atau kebijaksanaan. Maka, mereka yang membaca ayat ini dengan mendalam akan mengerti, bahwa Abram memberikan sepersepuluh dari semua yang dia dapat dari perang mengalahkan para raja, kepada Raja Kebenaran yang adalah Imam Allah Yang Maha-tinggi’. Mudah-mudahan jelas bagi kita -yang menghubungkan gelar Raja dan Imam pada orang yang sama- bahwa ini adalah Tuhan sendiri.

Abraham-Bapa orang beriman memberikan sepersepuluh dari pendapatannya kepada Tuhan. Ini data pertama tentang persepuluhan, yaitu bahwa orang beriman memberikan persepuluhan kepada Tuhan dari semua hasilnya.


Dalam Kejadian 28:22 kita membaca bahwa setelah mengalami mimpi di Betel, Yakub berjanji, bahwa dia akan mempersembahkan sepersepuluh dari semua yang Tuhan berikan kepadanya kelak. Perhatikanlah kenyataan yang luar-biasa ini. Yakub waktu itu barulah seorang pelarian. Dia tidak memiliki apa-apa. Tapi dia bernazar tentang perse-puluhan.

Orang beriman bernazar atau berjanji bagi Tuhan untuk memberikan persepuluhan dari semua hasilnya kepada Tuhan, justru ketika dia masih dalam usaha untuk mencapai hasil.


Dalam uraian kepada orang Ibrani (Ibr 7:9) kita membaca kenyataan yang menarik. Suku Lewi-karena tidak mendapat pembagian tanah berhak atas persepuluhan. Dari persembahan itulah mereka hidup. Dengan kata lain orang Lewi mendapat penghasilan dari persembahan persepuluhan umat. Namun dari merekapun karena mereka keturunan Abraham, ditarik juga persembahan persepuluhan.

Kita harus mengatakan kenyataan yang jujur ini. bahwa tidak seorangpun bisa mengatakan diri bebas dari persembahan persepuluhan sekalipun dia hidup dari persembahan persepuluhan itu sendiri.


Dalam II Tawarikh pasal 31, kita membaca bagaimana Raja Hizkia memerintahkan agar Israel hidup sesuai dengan kehendak Allah. Dalam rangka itu Hizkia mengatur pengumpulan dan pendistribusian persembahan. Termasuk di dalamnya persembahan persepuluhan. Sang Raja juga ikut membayar kewajibannya. Ayat-ayat terakhir dari pasal 31 ini menyimpulkan bahwa begitulah Hizkia bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan dan karena itu dia berhasil dalam semua usahanya.


Dalam Nehemia pasal 13 kita membaca, bagaimana dalam ketaatannya kepada hukum -Taurat- Nehemia melakukan hal yang sama dengan Hizkia yang disebutkan diatas, termasuk hal persembahan persepuluhan umat dan segala pengaturan persembahan yang lain juga. Dengan cara itu kehidupan umat itu kembali benar di mata Tuhan.


Dalam Maleakhi 3:6-12 dijelaskan bahwa Persembahan Persepuluhan itu untuk menjadi Persediaan di rumah Tuhan (Mal. 3/10). Istilah Rumah Tuhan disini menunjuk pada Institusi atau persekutuan yang harusnya menjadi pelaksana kasih Allah dalam penggunaan persembahan Persepuluhan itu. Bahkan dijelaskan pula bahwa Persembahan Persepuluhan diberikan sebagai bentuk penghormatan dan kepatuhan terhadap Tuhan Allah (Ams. 3/9-10)


Kita melihat kenyataan menarik bahwa ada hubungan antara pemberian persembahan termasuk dalamnya persembahan persepuluhan sebagai pelaksanaan kehendak Tuhan, dan keberhasilan dalam usaha.

Hasil pertama yang disisihkan selalu berhubungan dengan persembahan Persepuluhan. Mempersembahkannya berarti memuliakan Tuhan sebagai penjamin berkat dalam kehidupan

Kita belajar bahwa ada memang banyak hal yang menunjukkan kepatuhan kita terhadap kehendak Tuhan. Dan persembahan persepuluhan merupakan salah satu yang signifikan di antara semua itu.


Perjanjian Baru memberikan tanda yang jelas bahwa Persembahan Persepuluhan berlaku. Sejumlah orang yang membayarnya melakukan hal itu dalam kemunafikan, sehingga ditegur oleh Yesus (Mat. 23/23; Luk 11/42; 18/12).

Pada akhirnya kita harus melihat kenyataan Jemaat-jemaat Pertama. I Kor 9/ 7-14, 16/2, II Kor 8/1 -15, Gal 6/6; I Tim 5/17-18 dan Ibr 7, semuanya menunjukkan bahwa hal persembahan persepuluhan tidak asing dalam Jemaat-jemaat pertama. Justru sejajar dengan itu kita melihat juga bahwa ‘korban berdarah’ seperti yang jelas dalam tradisi Yahudi makin memudar.

Kita belajar bahwa tidak ada satu ayatpun dalam Perjanjian Baru yang membatalkan atau yang mengusulkan penggantian pemberian Persembahan Persepuluhan.


Kesimpulan

1. Dalam PL: Umat Tuhan diwajibkan membawa persepuluhan sebagai tanda ucapan syukur kepada Tuhan yang selalu memberkati tanah dan hasil bumi. Sedangkan PB: Yesus mempersembahkan tubuh-Nya secara total untuk kehidupan dan keselamatan manusia. Karena itu Yesus meminta hidup kita (band. Roma 12:1).

2. Orang Kristen memberi persembahan tidak dimaksudkan membujuk atau menyuap Tuhan supaya Ia melimpahkan segala berkat-Nya berupa pernyataan, pemeliharaan, perlindungan, kesehatan, harta benda, umur panjang, sukses dalam usaha, jabatan dan keselamatan; tetapi sebaliknya karena Tuhan Allah bertindak menciptakan segala sesuatu, memberi hasil, kelimpahan sampai tindakan penyelamatan di dalam Kristus. Keselamatan yang demikian tidak mungkin diberikan oleh siapapun di dunia ini.

3. Gereja harus mendorong warga jemaat untuk bekerja, saling mendoakan agar kita warga jemaat berhasil dalam usaha, maka mereka bersukaria membawa Persembahan Persepuluhan yang adalah anugerah Tuhan di rumah gereja.

4. Dalam diri manusia Tuhan mengaruniakan sumber daya manusia berupa bakat, hobi, talenta, otak, ilmu pengetahuan, teknologi. Demikian alam ini Tuhan sediakan sumber daya alam yaitu tanah yang subur, udara, air, hewan, ikan, tumbuh-tumbuhan, sayur-sayuran, tambang dan segala harta benda lainnya. Semua itu harus dikelola, diberdayakan dan dipersembahkan kepada yang empunya tanah dan kehidupan yaitu Allah yang disembah di dalam Yesus Kristus.

5. Memberi persembahan adalah salah satu kegiatan ketatalayanan. Secara singkat dari dalam pengaturan ekonomi yang diberikan Tuhan pada manusia dan pada alam ini seharusnya disendirikan/disiapkan secara baik dan benar untuk dipersembahkan sebagai pengucapan syukur kepada Tuhan dalam rangka memperlancar pelayanan dan kesaksian gereja.

Sumber: Dokumentasi GMIM USA 5/10/2014